Kisah Perempuan Australia yang Jatuh Hati dengan Wayang

568
Helen Pausacker | foto: autraliaplus.com

TJATURSAPTOEDY.INFO – Ia adalah Helen Pausacker, perempuan Australia yang mendalami seni wayang. Sudah 40 tahun silam, Helen menampakkan kecintaanya terhadap salah satu kebudayaan Indonesia ini. Ia pun secara gamblang menjadikan dirinya sebagai satu-satunya perempuan asal Australia yang belajar mendalang secara profesional. Bahkan, Helen sempat mengadakan pertunjukkan di negeri asalnya dan memperlihatkan kepiawaiannya mendalang dalam bahasa Inggris.

Wayang itu sendiri adalah salah satu kesenian tradisonal Indonesia yang terbuat dari kulit kerbau yang sudah dikeringkan, kemudian diwarnai kedua sisinya. Sudah lebih dari 1.000 tahun sejak wayang pertama kali dipertontonkan di tanah Jawa. Lakon wayang biasanya diambil dari kisah epik Mahabarata dan Ramayana dari zaman Kerajaan Hindu Jawa berabad-abad silam.

Kunjungan perdana ke Indonesia pada 1974 jadi gerbang Helen mendalami dunia perwayangan dan bercita-cita jadi dalang. Dua tahun berlalu, Helen kembali ke Indonesia untuk belajar jadi dalang di Solo selama satu tahun, kemudian mengikuti proses belajar intensif pada 1981, 1995, dan 1997-98.

Helen Pausacker belajar mendalang pada 1976 | foto: australiaplus.com
Helen Pausacker belajar mendalang pada 1976 | foto: australiaplus.com

Karakter Helen sangat unik, tak hanya karena ia warga negara asing yang belajar kebudayaan Indonesia, namun juga karena Helen adalah perempuan. Mungkin kamu pun sudah sering melihat kalau dalang biasanya diperankan oleh laki-laki. Juga, Helen biasa membuat cerita baru namun tak memengaruhi peristiwa utama di Mahabarata dan Ramayana.

Perempuan cantik ini juga menuturkan kalau jadi dalang dari pertujukan wayang yang nobetene menghabiskan semalam suntuk punya kesenangan tersendiri. Karena bisa merasakan atmosfer unik yang tak pernah dirasakan olehnya selama tinggal di negeri kanguru. Di Australia, Helen tampil bersama Komunitas Gamelan Melbourne yang sudah terbentuk lebih dari 20 tahun lalu. (ed)

Komentar